A story about....
Sang Rumput dan Angin (Kisah Cinta Tak Terungkapkan)
**Sepertinya angin selalu berbisik keindahan, bagi mereka yang sadar. Ya.. bagi mereka yang mengengerti akan sebuah keelokan dari ga...
Cerita T
Cinta dan iilusi (Goresan Aksara Tinta Jingga)
**terangkai abjad tak kan mampu ais logika-logika,
timpang tindih dengan barisan aksara buatnya tertawa,
karna..lantunan jiwa tak kan terjabar oleh bait-bait prakata tak terhingga..
ia redam endap asa yang kian tumbuh tunas-tunasnya..
sejenak, tarik nafas perlahan... dan tanya pada sang relung jiwa,
"Sudahkah aku terjaga dari tidurku yang panjang?"
teriring bait ilusi penuhi imaji..
selayak kasturi mewangi sampai pagi..
dan terus semerbak walau enyahlah sang bayu dan bekasnya?
apakah ini menancap di sini, lubuk kalbu yang terdalam???
ahhh...
andai tak da ruang kosong dan pembatas kasat mata ini..
mungkin sesudut bidang itu telah temukan sang pendar yang ia cari selama ini...
#lagi-lagi imaji yang selalu kau susuri..
-cinta dan ilusi-
#tinta Romansa Senja Jingga
8-April-2013
Malam sunyi (Seretan Kata by Tinta Jingga)
sesaat ku temukan di beranda malam ini..
tak berada di samping sesuatu yang kau sebut teduh..
sudah biasa..
jalani semua dengan tawa..
linang air mata sembunyi di balik senyum dan binar mata..
ah...
aku tetap lihat..
aku selalu rasaa...
tersimpan di lubuk hatimu sana...
#tinta Jinggaa
Otakku!
sesingkat runding air mata haru..
terobati oleh runyam syahdu..
perlukah asam maniis rindu?
jika masih berkelit keluh tak mau..
lamun kah itu..
jika teiap detik menari namamu..
di otakku..
termpurung lubuk hatiku...
ahhh...
biarlah berlalu...
guratan hasrat pendam teak terjemu..
biarlah begitu...
aku...
selalu..
Cinta yang Takan Terjamah oleh Luka
Tanda-tanda Seseorang Telah dewasa
Arti Dewasa
Dewasa adalah fase dimana
harus terlewat dengan ribuan jalan berliku. Tak ada yang mudah dalam mencape
fase ini. Dan jelas, tahap yang sangat sulit dicapai, walau umur kepala dua atau kepala tiga tidak menjamin
seseorang telah mencapai fase dewasa itu sendiri. Dewasa cenderung bersifat
abstrak ketika tak mampu diukur dengan bilangan berpenyebut ataupun bilangan
berangka bulat sekalipun. Dewasa cenderung bersifat kualitatif bukanlah kuantitatif.
Banyak cara melihat seseorang itu dewasa atau tidak, misal dari penghargaannya
kepada seseorang yang ada di di depannya. Mudah jika kau ingin menilai seseorang
itu dewasa atau tidak, yakni seseorang yang baru saja kau temui setelah lama
menjalin pertemanan di duna maya/ facebook (kopi darat-red) dan kau bertemunya
di dunia nyata, misal, kau berdandan
dengan norak ataupun apa adanya. Dan kau lihat segaris didahinya, mungkin dia
tidak suka dengan penampilan kita, bukan dengan cuek ketika bertemu denganmu
bahkan lebih parah lagi langsung kabur dan pulang meninggalkanmu.
Tetapi dia akan tersenyum dan berkata dengan halus, “aku suka dengan kesederhanaanmu.”
Tanpa dia marah, memperlihatkan rasa illfeel
nya padamu, dan tetap tersenyum selama kau berbincang dengannya. Dia pun
akan tetap menghubungimu walau kau tahu dia tak mungkin tertarik kepadamu. Dia dengan
hebatnya tetap menghargaimu sebagai teman dengan tidak menghilang begitu saja. Itulah
seseorang yang dewasa, bisa menghargai orang lain tanpa melihat fisik yang ada.
Dewasa, penafsiran yang rumit
ketika saling timpang tindih antara kekanak-kanakan dan dewasa. Berjalan dengan
waktu, dewasa akan lebih dominan bertahan dari pada kekanak-kanakan itu
sendiri. Pernahkan kau melihat seseorang, (misal si Muhammad) termenung di
sebuah tempat yang sepi? Ya, bisa disebut dia galau. Namun kadang ada seseorang
yang menilanya itu sifat kekanak-kanakan yang menghabiskan waktunya untuk
bermelow-melow dengan risau. Tersenyumlah jika memang kau anggap benar pikiran
itu. Maka lihat dari sisi lain lagi, pernahkah anda melihat seseorang (misal si Adi) mabuk-mabukan karna terlalu
banyak masalah yang mendera, dalam sisi ini, tingkat permasalahnnya sama dengan si Muhammad yang melow tadi? Siapakah yang
kekanak-kanakan menurutmu? Muhammad ataukah Adi. Muhammad merenung bahkan
sampai dia menangis tersedu karena pikirnya beradu dengan naluri hatinya, namun
Muhammad seketika mampu menarik kesimpulan apa yang harus dia lakukan selanjutnya,
dengan kata lain dia pun akan memilih jalan keluar yang positif tanpa membuat
masalah baru.. Laaaaa, kita lihat
dari sisi Adi. Mabok-mabokan, nongkrong sampai malam dan akhirnya melupakan
masalahnya dengan mudah. Apa yang tidak disadarinya, dia membangun masalah lain
dari sisi itu, misal dari sisi negatif alkohol itu sendiri, apakah alkohol akan
mengobati galaunya setelah dia meneguk habis, ataukah akan menambah pening
dengan dampak yang dihasilkan dari alkohol (misal utang membengkak, dimarahin
orang tua, matinya cipta karya). Ya, kalian bisa pilih, dewasa mana antara
Muhammad dan Adi dalam mengatasi masalahnya.Jaga dia, ya Allah






